pergilah kemana hati membawamu


Dan kelak. di saat begitu banyak jalan
terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus
kauambil, janganlah memilih dengan
asal saja, tetapi duduklah dan
tunggulah sesaat. Tariklah napas
dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
Jangan biarkan apa pun mengalihkan
perhatiamu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.
Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkan hatimu.
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah ke masa hati membawamu..


(Susanna tamaro, va' dove ti porta il cuore)

                            

menangislah

kemarilah serenita

menangislah di bahuku

menangislah..

sekeras-kerasnya

jangan sisakan sedikitpun di dalam hatimu

apabila sudah..

maka tataplah mataku

tersenyumlah

dan bangkitlah

disana ada cinta lain yang menunggumu

Jogja Kembali

(Semoga ini menjawab pernyataan yang terlontarkan atau terpikirkan :D)

Senja Utama penuh sesak. Tempat duduk sederhana, angin dingin yang memasuki jendela, dan riuhnya para pedagang serta pengamen tak menghalangi niatan untuk melepas rindu pada keluarga dan khususnya ibunda tercinta. Yogyakarta, rasanya tak sabar untuk kembali menginjakkan kaki di kotamu. Tak seperti kepulanganku sebulan lalu, kali ini aku akan pulang cukup lama. Libur 17-an ditambah isra’ mi’raj menambah waktu liburku menjadi lima hari. Setengah sembilan lewat ketika akhirnya kereta melaju. Kami berlima waktu itu, tak tahu siapa yang akan duduk terpisah. Untunglah, tempat duduknya berhadapan. Jadi tak akan ada masalah.

Sebulan sekali kami berlima berusaha untuk pulang, walaupun itu berarti kami harus merelakan sepuluh jam duduk di kereta pada jumat malam, dan sepuluh jam lagi pada minggu malam. Hanya itulah waktu yang biasanya ada untuk memenuhi panggilan hati, bertemu orang tua, saudara di yogyakarta. Dan Senja Utama adalah pilihan yang cukup masuk akal. Aku sempat terheran dengan komentar banyak teman tentang kepulanganku yang begitu sering. “Wah, anak mami tho”. Sebuah komentar yang terasa agak negatif, seolah ingin mengatakan bahwa aku ini anak manja, yang tak bisa jauh dari orang tua Bukan, bukan begitu. Bukan karena aku tidak bisa jauh dari mereka, aku hanya tidak ingin. Jika sekarang kenyataannya harus begitu, maka selagi aku masih punya waktu, masih diberi kekuatan, belum ada tanggungan keluarga sendiri, aku ingin sedikit berbakti pada keluarga yang telah membesarkanku dengan sebaik ini, karena hanya itulah yang dapat kulalukan saat ini.  Salahkah bila aku ingin sering bertemu ibu, ayah, dan adekku yang selalu memberikan segala yang terbaik yang mereka punya untukku. Anehkah jika aku ingin sering bersua dengan orang-orang yang kucintai dalam hidup ini. Dua ratus ribu apalah artinya bila dibandingkan dengan senyum mereka. Lelah perjalanan pun tak terasa. Mungkin banyak yang mengira, transfer bulanan sudah cukup menandakan rasa cinta, mewakili balas jasa atas semua yang telah diberikan.  Sekali lagi, selagi masih ada waktu.

Adzan subuh sudah lama berlalu ketika akhirnya senja utama-ku memasuki stasiun tugu. Ayahku sudah menunggu dengan sedan hijau tuanya sejak satu setengah jam yang lalu.  Hari ini, 17 agustus 2006, udara jogja di pagi hari terasa sejuk sekali, tak seperti jakarta yang penuh debu. Sesampainya di rumah, ibu dan adekku sudah berdiri di depan pintu. Kulihat raut wajah ibuku begitu senang. Syukurlah, aku bisa sedikit membahagiakannya. Aku akan pulang lagi bulan depan jika tak ada halangan, untuk sungkem sebelum ramadhan, dan menjumpai jogjaku sekali lagi.

Blog perjuangan

Akhirnya ada sedikit waktu lega untuk cek email dan menulis blog ini setelah seminggu penuh berjuang menyelesaikan sebuah modul project bagianku. Tepatnya sejak jumat minggu lalu, dimulailah pekerjaan lembur. Project PSS-HSO bertujuan membuat sistem untuk menangani salah satu client astra yaitu honda (no more i can tell, cause it's a secret, isn't?). Sebuah project dengan business process cukup ruwet, project yang doesnt make any sense buat beberapa anggota tim yang sudah berpengalaman, karena waktunya begitu mepet dan belum lagi requirement yang sering berubah-ubah, use-case tidak jelas, dan tentu saja kembali karena business process yang njelimet.
But, semua anggota tim terus berusaha menyelesaikan project ini
menurut timeline yang sudah diberikan, alhasil, banyak yang lembur. Seminggu ini aku dan beberapa temen selalu pulang lewat jam 9 malam ...T_T..., ada yang karena memang diserahi modul  lebih banyak dan lebih ruwet daripada yang lainnya, ada pula yang karena kemampuan programming dotnetnya masih belajar (nah, klo yang ini aku), jadi butuh waktu jauh lebih lama untuk menyelesaikan sebuah modul yang bisa dibilang cukup sederhana :D. Kemaren hampir putus asa, rasanya dah mau nangis aja,pesimis kalo bakal bisa nyelesain tepat pada waktunya, kalaupun selesai pasti tester akan menemukan banyak bug di dalamnya. yang jelas kemaren itu bener2 lagi down. Setengah idup mengatasi rasa itu, sambil terus berusaha ngoding sampe jam 9-10 malem walaupun otak udah buntu. Pulang naek apa? untungnya dapet jatah voucher taksi (khusus bluebird), jadi ndak khawatir :D. Ada rasa nggak enak (banget), cewek pulang malem2, walaupun jam segitu di jakarta masih begitu rame. Apalagi klo inget jogja (bantul) yang dah sepi. Disini jam segitu bus-pun masih rame beroperasi (entah sampe jam berapa). Tapi ada hikmahnya juga, gara2 pulang malem jadi bisa liat kemayoran, lewat salemba, matraman, kampung melayu, tjg priok, daerah yang selama ini cuma pernah aku denger. Beberapa bulan di jakarta daerah yang kutahu hanya rumah(cipinang)-kantor(sunter) via bypass, lurus doang nglewati cempaka mas, belok kanan ke rawamangun sampe ayam bakar wong solo, stasiun senen, cililitan, pondok gede (rumah pakde yg laen lagi), dan cimanggis (rumah paklik). Back to previous, senin besok mudah2an ndak dapet use case baru lagi biar bisa bug fixing. tapi rasa2nya bakal dapet deh. Dev lead sudah pesen untuk use case baru itu harus selesai rabu malam. Harus bisa soalnya rabu malam rencananya pulang ke jogja, sudah beli tiket senja utama PP. Ayo semangat.

(jakarta, sabtu 12 agustus 06, di sela-sela coding use-case job allocation)

Standing on faith

Tidak terasa sebulan sudah aku berada di ibu kota. Sejak pertama aku menginjakkan kaki di kota ini, sampai hari ini, aku masih mereka-reka, alasan apa yang sebenarnya membuatku meninggalkan kota tercinta, yogyakarta.

Entah nama besar perusahaan yang menerimaku bekerja, entah ingin pergi dari kepenatan tempat kerjaku sebelumnya, entah karena ingin membantu ekonomi keluarga, entah karena sebuah berita yang membuat hati ini rasanya begitu hancur. Mungkin ini adalah pilihan terbaik yang aku punya saat itu.
Sebagian besar teman tahu, betapa besar keinginanku untuk menetap di jogjakarta, melanjutkan S2, dan menjadi dosen di universitas negeri terbesar di kota ini. Keinginan itu terpatri dalam diriku, diperkuat dengan dukungan penuh orang tua dan teman-teman. Aku cocok jadi dosen, kata mereka.

Namun saat ini, rasanya aku ingin mereview lagi semuanya. Menata ulang segala rencana, keinginan, dan harapan. Sebuah peristiwa membuatku tersadar kembali bahwa apa yang begitu kita inginkan, begitu kita harapkan, apa yang menurut kita baik, segala yang kita usahakan, belumlah tentu kita dapatkan.  Ada kekuasaan Tuhan di balik semuanya, ada takdir. Sangat sulit menerima kenyataan yang bertentangan dengan keinginan, rasanya Tuhan begitu tidak adil. Maafkan aku ya Allah, aku ini hamba-Mu yang lemah.

Aku teringat kembali pada sebuah ayat … jika kamu menyukai sesuatu maka belum tentu itu baik bagimu, dan jika kamu membenci sesuatu maka belum tentu itu buruk bagimu. Allah-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang terbaik bagiku.

Karena itulah, aku tidak berani terlalu berharap pada keinginanku yang satu ini. Takutnya yang inipun tak bisa kuraih, rasanya akan sakit sekali. 

Tapi aku lebih takut jika keinginanku ini tak sesuai dengan kehendak-Nya, lebih takut jika yang kujalani ini bukanlah yang terbaik menurut-Nya. Sekarang aku hanya ingin menjalani semuanya, terus berusaha menggapai keinginan, dan terus berdoa semoga apa yang menjadi keinginanku ini adalah juga keinginan-Nya.

Aku ingat doa-doa yang selalu kupanjatkan, yang kupinta adalah yang terbaik untukku, terbaik menurut-Nya. Dan semua peristiwa yang kualami, semua jalan yang kutempuh hingga hari ini, kuyakin adalah jawaban-Nya.

Ya Allah...Engkau yang paling mengerti diriku, bagaimana sulitnya aku membuat keputusan...

begitu banyak pertimbangan...bermacam alasan...

Ya Allah…Engkau yang menata hatiku..berilah aku kekuatan

menerima semua ketetapan..menghadapi semua persoalan

Pilihkanlah yang terbaik menurut-Mu...

yang dapat mengantarkanku lebih dekat pada-Mu...

Aku berserah pada titah-Mu...

Kupinta selalu dalam doa-doa ku, dalam dzikir-ku...

di setiap shalatku...

Walau aku bukanlah hamba-Mu yang taat..

bukan pula hamba-Mu yang selalu ingat...

namun kuyakin..Engkau Maha Kasih...

Iringilah langkahku...

tuntunlah aku selalu menuju jalan-Mu

Amien....

Daily Pray 1

Ya Allah...
Engkau Yang Maha Tahu tentang hatiku dan semua hati
Engkau yang memiliki ketetapan mengenai hidup dan jalanku
Engkau yang paling sering menerima kebimbanganku
Engkau yang paling setia menampung setiap derai air mataku
Engkau yang tetap tersenyum walau sering ku tak mengingat-Mu
Engkau..rabb-ku dan semesta alam
Alangkah terbatasnya daya pikirku dan betapa tak terbatas ilmu-Mu
Begitu kecilnya rasa syukurku namun jelas berlimpahnya nikmat-Mu
Sungguh begitu banyak pintaku namun betapa luas anugerah-Mu
Engkau..rabb-ku dan seisi alam
jadikanlah setiap langkahku adalah jalan-Mu
setiap desah nafasku teriring ridho-Mu
setiap persimpangan yang kuambil adalah pilihan-Mu
Entah bagaimana aku dapat memohon ampunan-Mu

(aku ini, hamba-Mu yang lalai)

doa sederhana

jika cinta itu angin
rentangkan layarku
pada udara yang tak panas dan tak dingin

jika cinta itu laut
layarkan perahuku
pada ombak yang tak badai dan tak mati

(salah satu sajak favoritku, diambil dr buku bahasa indonesia sma kelas1-->kayanya)

lagu lawas

Usah kau kenang lagi sayang
Masa yang telah silam
Walau derita akan menjelang 

Usah kau harap lagi sayang
Cintaku telah hilang
Anggaplah itu mimpi di hari siang

 
Pagi ini, bisku menyetel lagu lawas. Lagu itu. Jadi ndak konsen menghapal. Ya sudahlah, ndengerin aja. Di sebelahku duduk seorang ibu, usianya sekitar 40-an. Dia ikutan nyanyi, tapi pelan. Hihi, itu emang lagu yang ngetop di zamannya, kayanya.
Lagu kedua, lagu ketiga, aku ndak tahu, lum pernah denger sebelumnya. Yang kuingat cuma bagian “ uwo, uwo, uwo…..” : ))

 Lagu keempat, pernah denger…
“…. menangis aku sendiri, terdiam pun aku sendiri….”
“ …. hanya titik air mata, dan senyum kehancuran ….”

Walah lagune…. Senyum kehancuran itu kaya apa coba, aneh-aneh aja ;))”

Lagu keempat, apa ya tadi .. lupa. Lagu keenam, ketujuh, ke-n, dah ndak ndengerin lagi. Bis masuk terminal jombor, ngetem, untung ndak selama biasanya. Aku melamun. (Selasa, 13 Desember 2005)

pagiku

        Males banget bangun pagi ini, dingin. Kalau ndak inget harus ngantor rasanya wegah bangun. Namun kupaksakan juga, soalnya lum shalat subuh, dah setengah lima lewat (lewat banyak) :D. Abis shalat kubantu mama di dapur. Pekerjaan rutin tiap pagi, menyediakan sarapan buat keluarga, walau jarang dimakan soalnya pada males makan pagi. Kecuali mama, aktivitas seharian membuatnya mau tidak mau harus sarapan dulu. Suka kruyuk2 kalo ndak sarapan katanya. Mama bisa aja.

       

        Mamaku seorang guru, di sebuah sma di kulonprogo. Kira-kira satu jam perjalanan dari rumah. Tiap pagi jam6 dah harus berangkat, mengejar bis pertama dari garasi. Kalau kelewatan bisa-bisa telat sampe sekolah. Pernah kami menyarankannya naek motor aja ato naek mobil, tapi mama ndak mau. Selain resikonya tinggi mama beralasan kalo di bis bisa tidur. Ada saja alasannya, tapi emang bener juga. Teringat dulu ke sekolah naek bis, kalo pulang suka ketiduran n kebablasan :D. Sekarang juga masih naek bis, tapi dah ndak ketiduran lagi, itu karena aku menemukan aktivitas yang begitu menyenangkan di dalam bis. Mau tahu? Ntar yah.

        Jam 7 kurang dikit. “Cekpin*, cepetan. Aku kuliah jam setengah 8”. Suara adekku sudah terdengar. Tiap pagi aku mbonceng adekku, dia kuliah, aku ke kantor. Buru-buru kubereskan sajadah, pake kaos kaki, sepatu, menyambar helm, dan…”Pergi ya pa, Assalaamualaikum.”

        Adekku mengantarku sampe ke djokteng kulon*. Walaupun adekku kuliah di umy yang deket rumah, dia rela ngalang demi mempersingkat waktuku. Jangan tanya kenapa aku ndak naek motor sendiri aja :p
       
        Kutunggu bis merahku, satu menit.. dua menit…lima menit…Kok ndak lewat2, padahal biasanya dah ngetem disitu. Pagi ini dingin sih, sopirnya kesiangan kali ya. Ah…itu dia,akhirnya lewat juga, bis jalur 5 yang setiap pagi setia mengantarku dari djokteng sampe jakal. Aku naik, kupilih tempat duduk sebelah barat dekat jendela (biar ndak panas). Kukeluarkan ma’tsurat, belum sempet kubaca usai shalat dhuha tadi :D.

    Ndak begitu rame pagi ini, biasanya klo ndak ngaji aku menghafal quran. Pagi ini rada males, jadi cuma mengulang hafalan, dalam hati. Ndak terasa, tahu2 dah sampe jalan magelang. Kuperhatikan bangunan2 sepanjang jalannya, biasanya cuma sekedar kulihat saja atau mungkin tidak karena kadang aku melamun. Hmm, isinya kebanyakan bengkel, dealer motor  n mobil. Jejer2 di sepanjang jalan, banyak banget. Jadi heran, bagaimana persaingan yang terjadi, pasti ketat. Tapi sudahlah, aku ndak paham dunia bisnis. Yang kupahami adalah setiap orang telah diatur rejekinya, hanya perlu usaha untuk menjemputnya. Tak perlu dicari, tapi dijemput. Namun manusia kadang tak menjemput ke tempat yang benar, kecuali mereka yang mendapatkan bimbingan.

        Jam delapan lewat lima, aku nyampe kantor di kantor dua lantai, tempat aku menjemput rejekiku, entah sampai kapan. Semangat ! (senin, 12 desember 2005)

 


* cek =panggilan Sumatra untuk kakak

Looking for a gift

Hujan turun sejak sabtu sore dan masih berlanjut sampai minggu pagi. Rencananya minggu pagi itu akan pergi jalan-jalan dengan adekku. Alhamdulillah, minggu siang hujan reda, dan kami pun akhirnya pergi, meninggalkan bapak sendirian di rumah karena ibu kebetulan sedang ke boyolali.

“Mo kemana dek?”

“Mmm, terserah sih, yang penting aku dapet kado buat temenku.”

“Emang mo dibeliin apa?”

“Dia sih penginnya kerudung cemplung warna merah.”

Berbicara kerudung aku dan adekku langsung teringat tempat favorit, selain harganya murah juga lumayan banyak pilihan.

“Ya udah ke pasar aja”

Akhirnya jelaslah tujuan kami siang itu. Ke beringharjo :D. Aku suka jalan-jalan walau sebenernya kurang suka belanja. Mungkin karena sayang duit. Buatku sih keluar uang boleh aja, asal buat sesuatu yang bener2 berguna, penting banget, urgent (kecuali klo buat beli buku, ndak mikir dua kali).

Sama seperti adekku, rencananya juga aku mau beli kado buat temenku, tapi lum kepikir mau ngasih apa. Selain jarang ketemu dia, komunikasi juga jarang, ndak tahu dia lagi pengin apa sekarang. Temen satu kelasku di sma, terakhir ketemu dia waktu ultahku, November lalu.

“Mampir ke progo dulu ya dek, mo beli bingkai buat foto 10R, foto keluarga yg kemaren itu loh”

“Yoh”

 

**********

“Bagus yang ini apa yang ini?”

“Bagus yang itu.”

“Tapi dia suka merah yang nyala.”

“O, ya udah yang itu aja”

“Ini berapa mbak?”

“ xxx”

“ Se-xx aja yah, dulu juga segitu”

“Bahannya beda mbak, klo yg se-xx itu yang ini”

“Ya udah deh, yang ini ya mbak”.

 

**********

Dua urusan sudah selesai, aku dah dapet bingkai n adekku dah dapet jilbab buat temennya. Dari bagian jilbab2 kami pindah ke tempat souvenir2 di belakang. Iseng2 aja liat2. Di situ banyak yang jual souvenir, pernak-pernik jilbab dan perlengkapan pernikahan.

“Baju pengantennya bagus banget tuh”

“Heeh, banyak payetnya, liat yuk, ntar kita payetin sendiri”

“Kamu

kan

yang mayet :D”

Baju-baju pengantin itu begitu indah dipajang. Bermacam-macam warnanya.

Ada

merah, kuning, ijo, biru (balon kali). Semuanya mencolok, kalo nggak bertabur payet yah berhias bordir mewah. Hmm, suatu hari mungkin aku akan memakainya. Tapi ndak mau yg ngejreng gitu ah.

“Dek, brosnya cantik tuh. Beliin yuk buat mama, ntar lagi

kan

hari ibu.”

“Boleh”

(Wah, pengeluaran di luar rencana nih. Tapi nggak apa2,

kan

buat mama tersayang.)

 

**********

“Kita kemana lagi nih. Dah capek, kakiku sakit.”

“Kemana ya, ndak tahu nih. Kadonya lum dapet. Beliin apa dong?”

“Mug aja”

“Masa mug, umum banget tuh”

“Eh, liat VCD2 yuk. Kok mahal yah.”

“Original ya mahal. Kalo bajakan tuh 5000 juga dapet.”

“:D”

“Hmm, beliin vcd aja deh. Discovery channel, cariin yang tentang bangunan2 gitu. Dia

kan

anak arsitek.”

“Oke.”. ……. “Nggak ada tuh.Yang ini aja po.”

Kubaca judulnya. Journey to Islam (

India

). “Boleh2”.

Ndak tahu apa isinya VCD itu, dari keterangannya sih, cerita tentang islam di

India

pada abad ke-n (aku lupa). Kovernya bergambar taj mahal, istana yang dibangun atas nama cinta. Mudah-mudahan isinya bagus.

 

**********

Sampai di rumah, kubungkus kado itu dengan kertas ungu yang dibeli lebih dulu daripada kadonya. Teriring kata-kata selamat dan doa untuk sahabatku, semoga kebaikan selalu meyertai setiap langkahmu.